July 21

Aturan Baru-Berat Buat Anak Ku

Image result for aturan uangSeminggu berlalu tidak ada telepon dari jagoan ku…jujur fikiran ku  selama seminggu itu bertanya-tanya apa dia bisa melakukan aturan baru ini? atau tidak? tetapi tampaknya lancar jaya nich “fikiran positif aku berkata”, karena dia tidak ada menghubungiku.

Dengan santainya waktu berlalu, pada suatu hari, terdengar telefon berbunyi tak berhenti-henti, setelah aku lihat telefon genggamku “waoow ada 5-6 kali miscall”, dan status WA dari umi pendampingpum ikut hadir dengan kalimat ” umi telefon sini”. Seperti biasa aku langsung telefon “eeee pulsa habis, langsung lari ke kamar kerja suami dan ambil Hpnya untuk menghubungi umi pendamping”.

Obrolanpun langsung terjadi ….

Aku    : “Assalamu’alaikum mi, gimana kabarnya? ada apa?

Umi P   : “Ini….eee…Fatan lagi ngambek, tidak mau ambil uang jajan di 130″

Aku       : “Looo kenapa?”

Umi P   : “Sebenarnya awalnya Fatan semangat mi, dia anter BIT sendiri ke 130, isi slip penarikan uang sendiri, cuma ketika menunggu tandatangan pak Mudabbir yang bikin dia ngambek?”

Aku       : “Maksutnya?”

Umi P   : “Ya kan dapat tanda tangannya tidak langsung saat itu, dan uang jajannya waktu itu sudah menipis kali, tetapi walaupun dia sedikit kecewa, Fatan masih mau menunggulah”

Aku       : “Terus?”

Umi P   : “Seharusnya tadi malam, dia ambil slip yang di persetujui itu, mungkin karena malam hari ya, dia capek makanya males untuk ambil slipnya”, jadinya tidak keambil dech. Kemudian pulang sekolah tadi dia ambil ke 130, ini awal pemicu ngambeknya, ternyata ada batas jam/hari slip tersebut, dan batas akhirnya ya malam itu yang mana Fatan harus mengambilnya. Jadinya mungkin karena capek habis sekolah, slipnya sudah tidak berlaku jadi dia kecewa dua kali dech. Dan hasilnya tuh…mulutnya manyun terus dan diam di atas kasur, ditanya tidak jawab hanya bilang, aku tidak mau ambil uang di 130″.

Hanya dengan hembusan nafas aku mendengar inti percakapan itu. Otak ku saat itu langsung menerawang kemana-mana jujurlah sedikit kecewa sih, karena tujuan awalnya, dengan mengambil uang saku di buku tabungan yang di pegang yayasan pastinya akan lebih baik, tidak hanya melatih anak kami lebih mandiri, rasa tanggung jawabnyapun akan lebih terasah, Itu sih tujuan kenapa aturan uang sakunya aku ganti, yang sebelumnya di pegang penuh umi pendamping sekarang beralih di tabungan khusus santri. Padahal si jagoan sudah sepakat banget dengan aturan baru itu. Hik…hik…hik…

Setelah saya mengobrol dan langsung mendengar rengekan si jagoan, akhirnya aturan baru uang sakunya kembali seperti semula, setiap hari dia tinggal minta ke umi pendamping, memang lebih gampang dan tidak ribet buat si jagoan kami.

Tidak berhenti disitu saja ya otak ini mencari jalan agar si jagoan kelas 4 MI ini harus bisa melatih dirinya untuk mengatur uang jajannya sendiri. Karena Target kami kelas 5 sudah tidak menggunakan umi pendamping sesuai aturan Pesantren. Saat itu juga saya menyimpulkan bahwa untuk mensukseskan aturan baru ini saya harus mendampinginya. Memang lumayan berat loooo, proses ambil uang tabungan itu, walaupun tandatangan ketua asrama 130 sudah ditangan, uang tidak langsung masuk kantong, santri harus ke gedung keuangan yayasan dan disana antri pastinya akan dilaluinya. Tempat juga tidak di depan gedung asrama, santri harus menempuh kurang lebih 1 KM kali dengan jalan kaki. Akan tetapi jika si jagoan berhasil melewati aturan ini, jempol 10, ciuman bahkan apa yang dia minta akan kami berikan, asalkan mampu yaaaa….hahaha..

Jagoan ku….. apapun caranya akan Abi dan Umi lakukan agar aturan-aturan di Ma’had bisa kamu jalankan. Karena Aturan-aturan itulah yang akan mendewasakan dan menguatkan kamu. Umi akan mendampingi dari tahap ke tahap seperti awal masuk di Ma’had Al-Zaytun ini sampai uang saku bisa kamu ambil sendiri.

 

 

 

 

 

 

July 15

Bahagia itu Perjuangan dan Pengorbanan

Heeeeeeeeeeeeeeem…Banyak orang bilang “bahagia itu sederhana, bisa kumpul dengan keluarga, bisa makan sepiring dengan lauk seadanya dengan orang terkasih itu bahagia, ada juga waktu dalam perjalanan sekitaran daerah jawa tengah terpampang besar baliho di pinggir-pinggir jalan menyatakan yang intinya “bisa menemukan jalan pulang kerumah dan bertemu keluarga itu bahagia”.

Jujur setelah membaca baliho tersebut saya termenung dan menutup mata kurang lebih 10 menit….dan apa yang terjadi?….otak dan hati kecilku menolak itu, sungguh saya menolak kalimat “bahagia itu sederhana”.

Memang sih, saya senang jika bisa kumpul dengan orangtua, kumpul dengan teman dan makan dengan daun pisang rame-rame, tapi kalau boleh bilang itu namanya “bahagia egois” yang bahagia ya hanya kita yang melakukan saja, benar tidak ya pikiran saya itu??

Coba kita renungkan, apa betul ketika kita makan enak bareng anak istri/ anak suami jika teman atau saudara kita kelaparan, bahkan mereka ada yang menjadi perilaku kejahatan…??????apa hati nurani kita bahagia????…saya yakin kita ( saya dan anda) tidak bahagia. Karena Allah SWT menciptakan kita di dunia ini untuk menjadi makhluk sosial yang harus saling bekerja sama, tolong menolong, berkasih sayang dan banyak lagi tugas kita.

Aku bingung jika ditanya,”apa kamu bahagia sekarang?”, jika menurut kamu kalau punya rumah sendiri, bisa makan minum enak setiap hari, anak-anak sehat, kendaraan ada, itu ukuran bahagia, maka? “aku bahagia”.

Akan tetapi ayolah teman, walaupun kita hanya sebagai perempuan biasa yang hanya memasak didapur, mencuci, mengepel, memandikan si bayi yang lucu, tapi kita harus punya keinginan yang besar untuk keluarga kita, saya selalu bilang sama si bungsu jadilah orang yang “awalul/pertama dalam melakukan sesuatu, jangan ikut-ikutan orang yang tidak benar, walaupun beda jika benar maka akan banyak yang sayang nantinya.

Alhamdulillah….selama ini saya selalu diajak suami saya untuk berfikir besar, panjang, dan leeebaaarrr (coki-coki kaliiiii). Karena saya itu orangnya suka menyepelekan masalah dan akhirnya masalah itu yang menyepelekan saya….hahahha… maksutnya itu saya belajar dari kata “sederhana”  jika kita selalu menyederhanakan sesuatu maka hasilnyapun akan sederhana bukan yang WAOOWWW BANGET.  Jika kita ingin mencapai sesuatu yang besar maka hukumnya bagi saya dan suami, pikiran dan tindakan kita harus besar dan berani untuk meraihnya bukan main-main.

Bahagia itu bagi saya adalah hasil dari tindakan yang penuh perjuangan dan pengorbanan yang tanpa henti.  Dan hasil itu akan kita dapatkan sesuai proses yang kita jalankan, bisa cepat atau lama.  Pikiran kita akan besar jika muatan atau isinya juga luas, banyak dan terbuka akan semua ilmu baru.

Ngomong-ngomong pengorbanan, kita lihat foto diatas, itu adalah foto anak bungsu kami dan teman-teman kamar barunya di asrama pesantren Al-Zaytun. Mereka kelas 4 MI, saya tidak bisa memungkiri bahwa perjuangan dan pengorbanan mereka sangat besar sekali, mereka harus menunda keinginan untuk makan bermacam-macam menu yang pastinya lezaaatt di luaran sana, mereka harus mereda keinginan bermain dengan situasi yang banyak hiburan di luaran sana, mereka harus menahan rasa kangen, rindu dengan keluarganya dan mereka harus menahan rasa minder saat diejek teman-temannya, rasa sakit, capek, bahkan khawatir akan tidak berjumpa dengan ibu/bpk adek kakaknya. Mereka juga harus bangun sebelum subuh untuk memulakan kegiatan sekolah.  Banyak banget loooo yang mereka pelajari, dan pastinya tidak akan diperoleh oleh anak seusia mereka yang hidup bareng kedua orangtuanya.

Oooo Ya, perjuangan dan pengorbanan kami sebagai orang tua juga tidak mudah loooo ya…..menyekolahkan si bungsu di pesantren adalah awal perjuangan dan pengorbanan kami yang berat, yang mana kami harus ikhlas bener-bener ikhlas harus berjauhan jarak, tidak sekamar lagi , hanya bisa mendengar kabar sibungsu saat sakit lewat hp, rasa khawatir jika si bungsu di ganggu temannya dan pastinya banyak hal lah, hal-hal itulah yang harus kita hadapi. Selama ini kita menghadapinya dengan ” keyakinan” , apa itu? yaaaa yakin dan matep bahwa masalah-masalah itu adalah pembelajaran buat anak kami yang akan membuat dia kuat serta bisa menyelesaikan setiap masalah yang dia hadapi nantinya, sudah pasti jika anak kami kuat dan siap serta bisa menghadapi dunia penuh masalah ini maka kami sebagai orangtua hanya rasa bahagia yang terpancarkan.

Betul tidak jika doa anak sholeh adalah salah satu penghapus dosa orangtua? Karena itulah saya berfikir bahwa doa dan setiap tindakan anak sholeh adalah jembatan mengantarkan kebahagiaan keluarga besar kami semua, jadi bukan hanya orangtuanya saja yang kena imbas kesholehannya, yang pasti kakek nenek bahkan nenek moyang kita juga bisa kena looo.

Alhamdulillahirrobbil’alamin

Yaaaa itulah maksut tulisan tentang bahagia saya…semoga bermanfaat.

 

June 4

Usia Dua Tahun Adalah Proses Memahami

Foto Nur Widayati.

“Horeeeeee…Aku berhasil menyapih si gendok yang luarbiasa menguras tenaga dan otak-ku……….hahahaha”.

Pasti sudah tahu doong jika bayi sudah di sapih atau berhenti minum ASI dengan terpaksa (bahasa kasarnya) pastinya usia sudah dua tahun, walaupun banyak sih bayi yang putus minum ASI di tahun pertama atau bulan ke 13, 14 dan seterusnya. Alhamdulillah kedua anak kami selama dua tahun tepat mereka menikmati manfaat luarbiasanya Air murni buatan sang Illahi. Yes…yes.yes……semangat sendiri untuk mensuport diri sendiri…hohoho??????????????

Untuk masalah sapih menyapih (bahasa jawa rek…) akan saya ceritakan pada tema dan halaman yang berbeda nanti…. karena tidak kalah heboh dan seruuu loooo kerja kerasnya yang dilakukan para ibu untuk menghentikan ASI tersebut…hik…hik..hik…

Kembali ke judul page ini!!!!

Yang pernah saya ketahui dari orangtua, kakek nenek saya, anak usia dua tahun itu harus berhenti netek….saya sempet bertanya-tanya kenapa ya..”kok harus dua tahun?”…setelah usia makin tua…dengan semangat belajar dan mencari-cari jawaban dari pertanyaan itu, Alhamdulillah akhirnya ketemu dan diperjelas lagi oleh mbah google pagi ini…saya menemukan satu alasan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi tentang pemberian ASI ini.

Mau tahu banget…apa tahu ajaaaa….hehehee

Alasan pertama... “ternyata dalam islampun hal yang mungkin sepele ini sangat diatur oleh kitab Al-Quran loooo…berarti dibalik usia dua tahun itu ada sesuatu yang penting untuk tumbuh kembang anak-anak kita, sampai-sampai Allah SWT menempatkan surat tentang ASI”.

Biar lebih kereeen dan valid cerita ini, saya tulis dech ayatnya:

Allah berfirman: *“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”* [QS Al Baqarah: 233].

Ayat diatas adalah salah satu bentuk kasih sayang yang diajarkan Islam mengenai penyusuan atau pemberian ASI (air susu ibu) kepada anak yang baru lahir hingga dua tahun.

Kemudian untuk alasan yang kedua ini…eeeeee”menurut pengamatan dan pengalaman si penuliss doooang lo ya“..hehehe bisa di pakai atau di buang…heeemmm…..seandainya saya bisa nulis simbol sedih kayak di android yang keren itu…pasti tulisanku ini banyak simbol-simbol aneh kali yaaaa…..

Kembali ke tema….

Untuk alasan kedua ini saya pernah membaca tentang tahap-tahap perkembangan anak usia 2 tahun sampai 6 tahun “di artikel itu menyebutkan kurang lebih ada 6 tahap yang akan di lalui anak usia ini. Hanya satu tahap yang akan saya bahas tentunya, yang pasti tahapan yang sangat berhubungan dengan temaku kali ini dooong…yaitu tahapan “Belajar memahami benar salah sehingga bisa mengembangkan atau mengasah kata hati atau hati nurani bayi kita”.

Luarbiasa banget kalau ngomongi tentang hebatnya kata hati atau hati nurani ini…hati nurani jika tidak di asah atau mendapat pupuk, gizi dari orang terdekat bahkan lingkungan maka hati nurani anak-anak kitapun tidak akan tumbuh sesuai dengan tujuan Tuhan. Akan tertutup dengan nafsu yang mematikan. huuussss kok ngomongnya mulai ngalor ngidol yaaaaa….

Looooo beneran looo jika sejak usia dini banget, anak kita sudah terbiasa dengan orangtua dan lingkungan yang penuh kasih sayang, melindungi, menjaga, mensuport bukan memaksa, pokoknya yang baik dech.. dalam arti baiknya bukan semua kemauan anak diikuti looo ya….pasti untuk tahap ini akan di lalui dengan bagus.

Perlu di ketahui juga, anak kecil kita itu dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kenikmatan dianggapnya baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk (hedonisme adalah aliran yang menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya bertujuan mencari kenikmatan dan kebahagiaan).

Dari inilah alasan kedua si penulis muncul…dari menghentikan penyusuan tersebut anak harus belajar tentang aturan salah benar, boleh dan tidak boleh, bahkan baik dan buruk.

Sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat), manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan/kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain.

Anak mengenal pengertian baik dan buruk, benar dan salah ini dipengaruhi oleh pendidikan yang diperolehnya. Pada mulanya, anak belajar apa yang dilarang itu berarti buruk atau salah dan apa yang diperbolehkan itu berarti baik dan benar. Pengalaman ini merupakan permulaan pembentukkan kata hati anak. Perkembangan selanjutnya terjadi melalui nasihat, bimbingan, buku-buku bacaan dan analisis pikiran sendiri. Sesuatu yang penting dalam mengembangkan kata hati anak adalah suri teladan dari orang tua dan bimbingannya. Hal ini lebih baik daripada penggunaan hukuman dan ganjaran, meskipun dalam situasi tertentu masih tetap diperlukan.

Untuk masalah hukuman dan ganjaran inilah yang menjadi pertanyaan???? kapan hukuman  itu di berikan??? tapi kelihatan sereeem dech kata-kata hukuman…kita ganti aja ya kata hukuman itu..”karena saya biasanya menggunakan pada anak-anak kami itu kata-kata “konsekwensi”…lebih halus dan lebih humanisme kali….hehehehe “akukan penyuka Psikologi Humanisme”…

Dengan konsekwensi itulah sejak usia dua tahun saya mulai mengenalkan ketegasan, kedisiplinan dan kemandirian pada anak-anak kami. Bagaiman caranya….”anak akan bisa berhenti menyusu jika orangtua tega melihat dan mendengar tangisan, rengekan anak untuk minta ASI… jika kita tidak kuat dan akhirnya menyerah karena merasa kasihan…heeemm maka gagal dech usaha keras berhenti netek…kita harus tahu cara mengalihkan anak kita agar bisa tidur dengan tanpa menyusu….itu luarbiasaaaaa beraaattt loooo…kecuali untuk bunda yang biasa memberi dot pada si bayi mungkin tidak berat-berat amat….tapi saya berusaha tidak mengenalkan dot pada kedua anak kami. Alhamdulillah berhasiiiilllll no dot dan no empong.

Kira-kira apa konsekwensi dalam kasus di atas??? ya pastinya anak akan belajar tentang larangan tidak boleh dan boleh. Saat adanya proses pengenalan itu, tidak mungkin dooong kita sabagai ibu hanya diam saja mendengar rengekan anak….pasti kita mulai memberi bimbingan, kenapa berhenti netek? kenapa harus berganti cara agar dia tertidur dan banyak lagi. Dan tiap anak pasti punya pengalaman dan cara yang berbeda untuk memahami tahap tersebut.

Contoh anak cantikku yang ada di gambar ” kami sudah berjalan hampir 3 minggu melakukan proses penghentian ASI dan sampai sekarang terkadang dia masih susah saat mau tidur…dia pasti akan merengek dan menangis hebat dengan alasan-alasan yang terkadang menyebabkan kemarahanku muncul….hik..hik..(maafkan umi ya sayang)”. Alhamdulillah dengan perjuangan si cantik sedikit demi sedikit dia tidak kaku dan bersikeras dengan keinginannnya saat mau tidur…yang jelas kata “TIDAK” sering didengarnya saat ini. Dari kata “tidak” inilah saya memulai mengenalkan pada anak-anak kami tentang aturan benar salah tersebut. Inilah yang aku sebut proses memahami.. Pastinya tidak hanya itu yang kami alami saat penyapihan….

Yaaaaa si cantik banguuuuun dech…tulisan juga berhenti dulu yaaaa…semoga bermanfaat…

Alhamdulillahirrobbil’alamin…

 

 

 

Category: Uncategorized | Comments Off on Usia Dua Tahun Adalah Proses Memahami