March 4

Masa-Masa Sulit Saya Saat Jauh dari Abi-Umi

beersama

Akhir bulan Juni tahun 2014 adalah awal saya mengarungi hidup jauh dari Abi dan Umi yang sangat menyayangi saya. Waktu itu saya harus belajar di tempat yang jauh dan asing buat saya, yaitu di mahad Al-Zaytun Indramayu Jawa barat. Waktu itu saya bersama Abi, Umi dan Bude Madura serta mas Faiz melakukan perjalanan dari Surabaya ke Mahad Al-Zaytun, perjalanan kami berangkat habis isya’ hari Jum”at malam dan nyampek Al-Zaytun pukul 20.00 wib hari Sabtunya. Malam itu juga saya dan Abi-Umi langsung mengikuti serangkaian tes syarat masuk MI Ma’had Al-Zaytun, seperti tes wawancara, tes kesehatan. Alhamdulillah tes berjalan lancar dan ditutup dengan Akad antara kami dengan panitia Al-Zaytun. Akad yang kami lakukan diantaranya kami harus siap mengikuti aturan-aturan yang ada di dalam mahad Al-Zaytun dan melakukan pelunasan administrasi awal masuk. Waktu itu Abi dan Umi harus melunasi sebesar 1.600.000 untuk pembelian Kasur, perlengkapan makan, akom bulan pertama, dll.

Malam harinya Abi dan bude serta mas Faiz pulang ke Surabaya, saya dan Umi tinggal di Al-Zaytun untuk mengikuti langkah selanjutnya. Abi pulang karena hari Senin harus kerja dan mas Faiz harus sekolah. Akhirnya Umi yang tinggal menemani saya di AL-Zaytun. Hari itu juga kita numpang di tempat saudara di asrama Al-Fajar kurang lebih 1 minggu. Karena saya belum mendapat kamar di asrama. Singkat cerita satu minggu kemudian kamar asrama sudah dibagi, dan saya langsung ke gedung persahabatan bersama Umi untuk melihat kamar saya, ternyata nyampek kamar, saya dan Umi orang yang pertama dech nyampek kamar. Karena masih sepi, belum ada yang datang, kemudian kami balik ke Al-Fajar untuk istirahat disana. Hari besoknya kami balik ke gedung persahabatan untuk melihat kamar lagi, eee nyampek disana sudah berdatangan para walisantri lain, dan yang bikin Umi Kaget ternyata para wali santri sudah memberi identitas untuk tempat tidur yang nantinya akan ditempati santri. Waktu itu umi belum tahu kalau harus memberi identitas seperti mereka, karena ketidaktahuan tersebut saya mendapat tempat tidur yang atas dech…padahal Umi maunya saya di tempat yang bawah karena untuk keamanan. Tetapi kalau saya sih senang –senang saja dapat yang atas.

sekolah2

Pada tanggal 1 Juli 2014 adalah awal pertama saya memulai pembelajaran di MAZ. Pada malam 1 Juli ada satu rangkain acara yaitu pembukaan pembelajaran oleh syaih AS Panji Gumilang. Acara pembukaan ini setiap tahun awal pembelajaran wajib diselenggarakan. Acaranya dimulai pukul 20.00 wib dan selesai pukul 22.00 wib.

Setiap harinya Umi tidur bersama dengan saya, satu Kasur. Waktu pertama pembelajaran adalah bulan Ramadhan, dan buat saya sangat berat untuk mengikuti berbagai kegiatan di Mah’had Al-Zaytun (MAZ), karena selama dirumah saya bebas untuk berapa lama tidur, kapan main game dan makan, mandi, tidak pernah di atur seperti di MAZ. Pertama disana saya dan teman-teman jam 21.00 harus mulai tidur malam. Padahal saya dirumah jam-jam segitu adalah waktu saya main game, nonton tv, dan melakukan kegiatan yang lain seperti membaca dll. Jadi pertama kalinya untuk tidur jam 21.00 adalah hal yang susah buat saya. Alhamdulillah Umi mengerti kebiasaan saya, jadi beberapa hari di awal-awal untuk adaptasi hal tersebut Umi membantu saya, dengan membiarkan saya membaca dahulu sebelum tidur, meskipun teman-teman sudah pada tidur. Selama membaca Umi selalu mengingatkan “membacanya pelan sayang, biar tidak mengganggu teman yang lain”. Selain masalah tidur, Bulan itu pukul 03.00 pagi saya harus bangun untuk melakukan ibadah sahur, Ya Allah berat banget ibadah itu, dengan sabarnya Umi membangunkan saya, jika saya benar-benar tidak mau bangun kami sahur dikamar, Umi sebelumnya sudah menyiapkan makanan untuk sahur yang diambil dari kantin santri. Setelah sahur selesai, saya harus ikut sholat subuh, waktu itu juga, Umi menemani saya sholat shubuh di selasar. Tidak hanya sholat subuh, Umi menemani saya di selasar, tetapi setiap waktu sholat, baik itu sholat dhuhur, asyar, magrib, isya’ dan subuh.

Satu hal lagi yang paling sulit untuk saya rubah, yaitu saat mau tidur, ada beberapa hal yang belum bisa saya hilangkan.Mau tahu ?” setiap saya mau tidur, saya harus dikipasin oleh Umi, punggung saya harus digaruk, saya baru bisa tidur kalau pakai bantal lengan Umi.”  Inilah hal yang paling susah untuk saya rubah. Akan tetapi dengan kesabaran, ketelatenan dan pantang menyerahnya Umi untuk memahamkan saya tahapan-tahapan sebelum tidur diatas harus dirubah dan Umi selalu meyakinkan saya, bahwa saya pasti bisa. Selama dua bulan, akhirnya Umi berhasil membiasakan dan merubah kebiasaan tersebut. 

sekolah

Pertama kali di sekolah saya diantar Umi dan kami melakukan perjanjian terlebih dahulu, yaitu selama satu minggu Umi harus menunggu di depan pintu kelas saya sampai pulang. Kesepakatan sudah saya kantongi. Hari pertama masuk sekolah bejalan lancar dan sesuai dengan apa yang direncanakan.  Eeeee pada hari kedua, saya sangat marah dan sedih serta takut ditinggal Umi pulang, mau tahu kenapa “ waktu itu saya menganggap Umi melanggar perjanjian yang sudah kita buat” waktu istirahat pertama saya tidak melihat Umi di depan pintu kelas, waktu itu juga saya langsung ambil tas dan sepatu di dalam kelas, tanpa ijin pada ustadzah, saya langsung balik ke kamar asrama, Karena di kamar tidak melihat Umi ada di sana, saya langsung tengkurap di kasur sambil menangis. Beberapa kemudian Umi datang dan langsung memeluk saya, Umi sambil menangis dan minta maaf  pada saya karena tidak ada didepan kelas. Ternyata kenapa Umi melanggar  perjanjian kami, waktu itu ada rapat dengan para guru di ruangan tertentu, dan waktu istirahat rapat tersebut belum selesai. Dengan penjelasan dan sambil menangis kami saling memaafkan dan saya bilang “Umi harus bilang dulu kalu mau ada acara“. Dan waktu itu juga Umi berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Karena kesalahan tersebut Umi dihukum harus menambah hari lagi menunggu di depan kelas. Umi sepakat juga dengan hukuman tersebut. Selama satu minggu Umi dengan sabar dan sendirian menunggu di luar kelas, karena semua walisantri sudah pada pulang semua. Selama satu minggu dua hari, umi menenunggu di depan kelas. Selanjutnya Umi menunggunya agak berjauhan dengan kelas saya, yaitu di depan pintu utama. Seminggu kemudian Umi hanya mengantar dan menjemput saat saya pulang. Eeee, ternyata susah buat saya, saya masih ketakutan jangan-jangan umi pulang. Jadi setelah Umi mengantar saya, saya main bareng teman-teman dan mengikuti pelajaran dengan senang, pada waktu istirahat pertama saya merasa sedih dan belum siap kalau Umi tidak menunggu saya sampai pulang. Akhirnya waktu istirahat tersebut saya langsung balik ke kamar asrama tanpa ijin dengan ustadzah. Sampai di kamar Umi kaget “loooo kok pulang” kenapa? Sambil menangis, Saya memberi alasan kenapa saya balik ke asrama, “saya takut umi tinggal pulang ke Surabaya” Mendengar alasana itu, Umi sempat marah karena saya melanggar perjanjian yang sudah kami buat dan tidak percaya kepada Umi. Karena saya melanggar perjanjian kita, Akhirnya saya disuruh memilih sama Umi “ saya balik ke sekolah atau tidak”. Saya berfikir kalau balik kesekolah saya sendirian, dan itu membuat saya ogah-ogahan. Jadi saya memilih di kamar saja. Saat itu Umi menyadari bahwa “saya belum bisa sendirian di Ma’had”. Dengan kejadian tersebut, Umi menanyakan kepada saya ” terus Umi harus bagaimana lagi sayang”, saat itu juga saya menjawab ” mulai besok umi harus menjemput saya waktunya harus lebih awal, jangan menunggu kepulangan. Akhirnya Umi menyepakatinya. Pada esok harinya, umi waktu istirahat kedua sudah ada di sekolah, saya senang sekali melihat umi menepati janjinya, selain senang saya semakin percaya dengan apa yang di omangin Umi pada saya.  Pada hari berikutnya, walaupun Umi bisa dipercaya, saya masih melanggar lagi perjanjian yang kami buat. Pelanggaran itu terjadi , hanya satu alasan yang masih terus muncul di pikiran saya yaitu rasa kekhawatiran ditinggal Umi pulang ke Surabaya.  Mau tahu apa yang saya langgar, tidak jauh beda dengan yang sebelum-sebelumnya, Pada waktu sekolah, seperti biasanya Umi mengantar saya sampai menunggu kelas masuk, baru umi pulang. Akan tetapi saat itu, setelah Umi mengantar saya, saya langsung balik ke asrama, di sana saya tidak melihat Umi di kamar, waktu itu saya menganggap Umi  bohong lagi. Jadi saya marah dan tidak percaya lagi pada Umi. Kemudian saya mencari Umi di asrama, kemana-mana tidak ketemu.. Akhirnya saya balik ke sekolah, dditengan jalan saya bertemu salah satu umi pendamping dan saya dibonceng dengan sepeda umi tersebut. Sampai disekolah saya menyuruh bu guru untuk telepon Umi, tapi ustadzah tidak punya nomor Umi, akan tetapi saya hafal no Umi, jadi saya terus minta tolong ustadzah untuk menelepon Umi. Alhamdulillah ustadzah bisa menghubungi Umi dan Ternyata Umi sepulang mengantar saya mampir ketempat saudara di asrama Al-Fajar, Pantas saat saya balik ke asrama tidak ada di kamar. Saat itu juga saya merasa tenang, karena Umi tidak pulang meninggalkan saya sendirian. Akhirnya saya belajar lagi, walaupun sambil menangis tugas-tugas kelas selesai juga. Sebenarnya Mengapa pelanggaran-pelanggaran tersebut sering terjadi?  “Umi bertanya pada saya, sambil makan di kantin umum dan bercanda ria. Kemudian saya bilang ” belum nyaman saja kalau Umi jauh dari saya”. Mendengar alasan itu Umi langsung menasehati dan mengingatkan saya bahwa” Umi sudah bilang dan berjanji pada masa Fatan, Umi tidak akan kemana-mana”, mas Fatan sudah tahu, kalau umi sudah berjanji,  umi selalu menepati janji itukan?” saya hanya diam dan menganggukkan kepala pelan. Pada keesokan harinya, waktu itu hari Jum’at, pada hari itu sempat membat saya kebingungan, harus bagaimana saya nanti? “kenapa saya bingung? karena saat hari Jum’at semua santri harus sholat Jum’at di sekolah, dan pada hari itu juga Untuk pertama kalinya saya jum’atan tidak ditunggu Umi, karena saya bingung, saya berinisiatif minta tolong Ustadzah lagi untuk telepon Umi, saya bilang ke ustadzah kalau saya tidak mau sholat Jum”at. Saya tidak mau menjelaskan alasan “kenapa saya tidak mau sholat jum’at. Akhirnya ustadzah telepon Umi juga, dan sepertinya Umi menjelaskan kalau hari Jum’at tersebut adalah hari pertama saya sendirian. Dan dijelaskan kalau saya bingung harus menaruh tas dan sepatu dimana selama ditinggal sholat Jum’at. Setelah telepoh akhirnya saya dijelaskan sama ustadzah tentang tempat menaruh tas dan sepatu yang aman selama jum’atan, akhirnya saya merasa lebih nyaman dech..

Pada bulan bertama memang sangat berat dan penuh kekhawatiran saya jika ditinggal Umi. Karena bulan pertama saya merasa belum mempunyai teman yang bisa saya ajak bermain dengan rasa nyaman seperti apa yang saya rasakan ketika bersama dengan Umi.

Pada bulan berikutnya lama-lama saya bisa beradaptasi dengan kedisiplinan dan kemandirian yang diajarkan di Al-Zaytun. Umi menemani saya tinggal di MAZ selama dua bulan penuh. Setelah bulan puasa berakhir, saya liburan hari raya iedul fitri selama satu minggu di rumah. Setelah liburan berakhir saya dan Umi balik lagi dech ke Ma’had Al-Zaytun (MAZ), setelah itu kita ada perjanjian bahwa Umi hanya menunggu saya satu minggu di Ma’had Al-Zaytun (MAZ), setelah itu Umi pulang dan sebulan sekali menjenguk saya..

sedih

Waktu yang saya khawatirkan selama ini akhirnya datang juga, yaitu kepulangan Umi ke Surabaya. Saat itu saya sangat siap dan berani di Ma”had Al-Zaytun sendirian bersama teman-teman dan umi pengasuh serta ustadzah dan ustad. Karena saya sudah merasa nyaman bersama teman-teman dan sudah menemukan kesenangan tersendiri saat bermain bebas di Ma’had Al-Zaytun (MAZ), belajar disekolah juga menyenangkan banget. Waktu kepulangan Umi itu hari minggu bertepatan paha hari proklamasi kemerdekaan RI yang ke 69 th. Jadi umi pulang setelah upacara kemerdekaan Ri. Saat itu saya sering bertanya “jam berapa sekarang mi?” karena Umi pulang nanti jam 11.30wib, kalau masih lama saya merasa senang dan mengajak umi jalan-jalan ke toko santri untuk beli jajan dech…saat itu saya dibelikan umi es krim. Setelah beli jajan, kita balik ke asrama dan disana banyak lomba digelar, seperti lomba balap karung, makan krupuk dll. Saat itu saya masih sempat ikut lombanya, Saya sering bolak-balik ke kamar untuk bertanya”jam berapa sekarang”  kepada Umi. Pada waktunya saya bertanya lagi sama Umi, “ jam berapa mi?” 15 menit lagi sayang” saat itu juga saya tidak bisa menahan ketidak mauan saya untuk ditinggal Umi pulang, saat itu juga saya mohon sama Umi untuk tidak pulang sambil menangis, tetapi Umi tidak mendengarkan permintaan saya, saya tambah marah karena permintaan saya tidak dikabulkan, saya buang tas Umi, saya Tarik-tarik kerudung dan baju Umi, tetapi Umi hanya bilang” Umi harus pulang sayang, kita sudah sepakat dan Umi percaya mas Fatan pasti bisa” Nanti Umi bulan depan kesini lagi”. Saya tidak menghiraukan omongan Umi, saya hanya mengis dan mencoba menahan Umi agar tidak pulang, waktu itu saya dipegangi banyak umi-umi yang lain, dan Umi sudah keluar kamar, saya berontak dan akhirnya saya bisa lepas dan bisa memegang Umi dan menahan Umi, akhirnya Umi sebentar kembali ke kamar hanya untuk menasehati saya. Dan saya di kamar dipegang umi yang jumlahnya lebih banyak lagi. Akhirnya saya tidak bisa lepas dan Umipun telah pulang. Karena saya merasa umi menepati janjinya untuk pulang, dan tidak mau menemani saya, akhirnya saya sepakat dengan umi pendamping untuk mengantarkan saya ke pintu gerbang, syarat yang harus saya ikuti yaitu saat bertemu dengan Umi saya harus bisa menahan marah dan tangisan saya saat di pintu gerbang. Akan tetapi ketika saya bisa menjalankan persayaratan tersebut, saya mendapat hadiah berupa uang untuk membeli es krim yang saya suka.

Kemudian karena sudah sepakat antara saya dan umi pendamping, saya diantar naik sepeda ke pintu gerbang. Semoga saya masih bisa melihat dan mengantar Umi. Saat itu saya hanya punya keinginan untuk mengingatkan kepada Umi “ bulan depan Umi harus kesini ya” kata-kata itu yang ingin saya sampaikan sebelum umi pulang. Dan Alhamdulillah saya sampai pintu gerbang umi masih ada di sana” saya langsung lari ke Umi dan kita berpelukan dan saya langsung bilang “ umi harus janji ya, bulan depan Umi ke sini” dan Umi langsung menjawab “ iya sayang, Umi janji” saat itu saya dan Umi tidak ada yang menangis. Kemudia Umi pulang naik motor diantar bapak suami umi pendamping dan saya naik sepeda balik ke asrama.

Bulan selanjutnya saya bersama umi pendamping dan teman-teman di Ma’had AL-Zaytun. Dua hari berikutnya Umi telepon, dan saya merasa nyaman dan senang di Ma’had AL-Zaytun (MAZ) tanpa Umi, waktu Umi telepon saya bilang “ngapain umi telepon, menggganggu saya main dech…sudah ya, mi” kata-kata itu yang keluar dan Umi bilang dengan mendengar kata-kata itu, Umi bukannya sedih tetapi tambah senang, karena itu menandakan saya sudah menemukan kesenangan dan kenyamanan di Ma’had.

Satu bulan sudah terlewati dengan menyenangkan, meskipun tanpa adanya Umi di samping saya.

Minggu depan waktunya Umi menengok saya.

Alhamdulillah hari yang saya tunggu-tunggu datang juga, yaitu waktu umi menjenguk saya sudah datang…rasanya luarbiasa dan menyenangkan sekali. Satu bulan saya menunggu kedatangan umi. Tapi satu bulan itu tidak terasa buat saya, karena saya sangat nyaman di ma’had bermain bersama teman-teman. Akhirnya tidak terasa lama saat menunggu umi. Satu bulan terasa satu minggu. Kata-kata ini yang sering saya bilang ke umi, “cepat sekali disini mi, padahal umi baru kemarin pulang ke Surabaya, eeee sekarang sudah ada lagi di ma’had”.

Umi mendengar itu, langsung bilang “Alhamdulillah sayang, berarti mas Fatan betah dan krasan di sini”. Umi bangga pada mas Fatan. Umi kelihatan senang sekali mendengar kata-kata saya itu, bisa dilihat saat umi tersenyum dan memuji saya serta mencium saya.

sepak bola

Sebelum kejadian itu, ada moment yang selalu saya ingat, bahkan umi juga tidak akan pernah melupakan moment tersebut. Yaitu saat-saat umi nyampek di asrama” waktu itu saya menunggu didepan asrama sambil bermain bola dengan teman-teman. Tapi saya merasa kenapa umi lama sekali tidak nyampek-nyampek di asrama, padahal saya sudah kangen sekali dan ingin memeluk umi. Akhirnya waktu yang saya tunggu-tunggu datang juga, “saat itu saya di sebelah gedung Al-akbar dan saya melihat ada ibu-ibu berdua, satu Ibu membawa tas ransel berwarna hitam dan kardus ditangan kanan, kemudian disebalah kanan juga ada tas srempang yang tidak asing buat saya. Siiip itu umi….kemudian saya lari sambil memanggil umiiiiiiiii, padahal sebelumnya umi tidak melihat saya. Setelah mendengar teriakan saya, Alhamdulillah umi melihat dan langsung berhenti. Akhirnya kami berpelukan dan umi mencium saya, dan air mata saya pun menetes di pipi. Tapi saat itu saja saya menangis, karena bahagia melihat umi sudah datang dan umi dalam keadaan sehat.

Kami berdua langsung masuk asrama dan menuju kamar saya di lantai dua. Setelah nyampek kamar saya langsung membongkar isi kardus yang dibawa umi, Alhamdulillah umi membawa berbagai macam kue yang bisa kami makan bersama-sama. Dan ada yang saya tunggu selama satu bulan yaitu mainan “hotwell”, terimakasih abi, Fatan dibelikan mainan mobil-mobilan yang Fatan pesan. Fatan sayang Abi dan Umi “muach”. Setelah bongkar-bongkar selesai, saya langsung bermain bersama teman-teman lagi dech. Dimalam harinya saya dan umi bercerita panjang lebar tentang selama satu bulan di ma’had. Salah satu cerita yang saya ceritakan adalah ,waktu saya sakit. “saya sakit saat dikelas, sama ustadzah saya disuruh istiahat di kantor. Sampai pulang sekolah saya tidur dikantor dan waktu pulang saya dibangunkan ustadzah dan diantar sampai kantin santri, setelah makan saya langsung ke asrama dan istirahat. Saya sakit itu terjadi setelah umi pulang, karena kebanyakan makan es krim dan gorengan, akhirnya badan panas meriang. Waktu sakit itu saya ingin ketemu umi dan sedih rasanya, tapi Alhamdulillah umi pendamping yang mendampingi saya juga sayang sama saya, jadi bisa terobati rasa sedih saya. Karena umi pendamping dengan sabar merawat sampai akhirnya sembuh dan bisa berangkat sekolah seperti biasanya.

Umi menjenguk saya kurang lebih 1 minggu. Saat umi ada di ma’had semua keperluan saya bukan umi pendamping lagi yang menyiapkan tetapi langsung di siapkan oleh umi. Kami ke kantin umum, beli jajan ke toko santri dan kesekolah juga dianter sama umi. Walaupun mengantarx hanya sebentar, tetapi membuat saya senang sekali.

Satu minggu sudah berlalu, dan waktu umi pulang ke Surabaya akhirnya datang juga. Saya mengantar umi sampai pintu gerbang. Saat itu pada hari kamis, umi menjemput saya di sekolah dan langsung menuju pintu gerbang. Saat itu kita masih menunggu umi pendamping dan suaminya, karena yang mengantar umi ke stasiun Haurgelis adalah suami dari Umi pendamping. 1 jam kemudian yang ditunggu datang juga, saya tertidur dan langsung digendong oleh suami Umi pendamping, tapi akhirnya saya bangun dan pamitan sama umi sambil berpelukan dan dicium sama umi. Umi naik sepeda dan berangkat saya juga dibonceng umi pendamping menuju asrama. Waktu mengantar umi saat itu saya sudah tidak menangis dan sedih lagi, karena saya harus belajar dan bulan depan umi datang kesini lagi.

Assalamu”alaikum umi….hati-hati dijalan.. sampai ketemu bulan depan…..

Salam buat Abi di rumah…..

salam to bpkibu

Category: Cerita Anak | Comments Off on Masa-Masa Sulit Saya Saat Jauh dari Abi-Umi