March 1

Pendidikan Al-Zaytun Telah Membuka Mata Ku

Anak-anak itu aset bangsa.. yang harus dididik dengan baik dan benar sesuai tuntunan Ilahi agar tumbuh menjadi manusia yang ber-iman dan ber-ilmu. Bukan diajarai untuk merendahkan diri mereka sendiri dengan berbagai atribut yang sudah tidak sewajarnya seperti orang tidak punya harga diri lagi.

Banyak tokoh-tokoh pendidikan, Psikolog bahkan ahli parenting sering meneriakkan dengan lantang, hilangkan OSPEK yang tidak ada manfaatnya.

Seperti gambar di samping, kita pasti menyebutkan bahwa anak-anak kita lagi menjalankan Masa Orientasi Siswa (MOS), Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), atau kini disebut Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan di sekolah guna menyambut kedatangan siswa baru.

Masa orientasi lazim kita jumpai hampir di tiap sekolah, mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Bahkan tingkat SD sekarang sudah mulai bermunculan. Tak pandang itu sekolah negeri maupun swasta, semua menggunakan cara itu untuk mengenalkan almamater pada siswa barunya.

Ironisnya, kita akan Syok, gemetar dan mengalir air mata saat melihat foto dan membaca berita kekerasan OSPEK dan MOS di media sosial dan media masa. Tidak melulu jalan jongkok, kekerasan OSPEK dan MOS sudah sangat merendahkan dan melecehkan secara seksual seperti laporan siswa dalam artikel yang ditulis Kompas bahwa: “Mahasiswa baru laki-laki disuruh berhubungan seperti suami istri dengan para mahasiswi baru. “Yang tidak manusiawi juga, peserta ospek diberi singkong yang bentuknya seperti alat kelamin dan diminta untuk alat oral.” Foto-foto –kekerasan OSPEK, seperti yang diunggah oleh warga, menggambarkan derajat kekerasan yang makin tinggi. (https://www.change.org/p/mendiknas-m-nuh-stop-ospek-mos)

Akan tetapi jika saya melihat siswa-siswi Al-Zaytun pada gambar yang atas, mengingatkan akan pengalaman saya untuk anak kami. Pertama kali mengetahui Al-Zaytun saya merasakan ada angin segar untuk sekolah anak-anak kami. Karena jika anak-anak kami sekolah di Al-Zaytun akan terselamatkan dari kekejaman sistem pendidikan yang jauh dari ajaran Ilahi atau fitrah yang diberikan Tuhan. Yang pasti setelah anak kami sekolah disana, Anak kami belajar mencintai dan memahami akan negara kelahirannya, makin mengenal sejarah-sejarah tokoh agama, tokoh bangsa, belajar untuk bertanggung jawab dan menghormati tugas-tugas sebagai manusia sosial, dan belajar untuk mengaplikasikan perintah dan larangan Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya.

Satu lagi yang membuat kami yakin akan Sekolah Al-Zaytun yaitu Al-Zaytun mempunyai bentuk dan sistem pendidikan yang mempunyai landasan pokok “Pesantren spirit but modern system“. Landasan pendidikan ini bersifat terbuka. Tidak hanya terbuka pada sistem pendidikan modern akan tetapi terbuka juga untuk menerima dan mendidik santri dari semua penganut agama, untuk dididik memahami ajaran agamanya masing-masing dengan baik.

Dengan sistem seperti diatas, kami berusaha untuk memberi kebebasan pada anak-anak kami untuk mencari, menggali dan memahami agama yang benar itu yang mana. Dan kami berharap tidak meninggalkan generasi keturunan yang asal ngikut saja.

Kami juga berharap anak kami bisa mempelajari indahnya hidup penuh perbedaan, penuh warna-warni. Jika budaya-budaya menerima dengan banyak individu dari berbagai keyakinan setiap harinya, maka jiwa toleransi akan terbentuk dalam diri anak-anak kami. Dan kedamaianlah yang akan terpancar setiap perilaku mereka.

Kesuksesan anak bukan karena orang lain, tetapi -ya…. karena orang tua dan kehancuran anak, ya….karena orang tua juga. Kalimat inilah yang membuat saya takut jika asal-asalan menyekolahkan anak-anak kami.

Alhamdulillahirrobbil’alamin………

 

Category: Al-Zaytun Kita, Parenting, Pendidikan | Comments Off on Pendidikan Al-Zaytun Telah Membuka Mata Ku