June 4

Usia Dua Tahun Adalah Proses Memahami

Foto Nur Widayati.

“Horeeeeee…Aku berhasil menyapih si gendok yang luarbiasa menguras tenaga dan otak-ku……….hahahaha”.

Pasti sudah tahu doong jika bayi sudah di sapih atau berhenti minum ASI dengan terpaksa (bahasa kasarnya) pastinya usia sudah dua tahun, walaupun banyak sih bayi yang putus minum ASI di tahun pertama atau bulan ke 13, 14 dan seterusnya. Alhamdulillah kedua anak kami selama dua tahun tepat mereka menikmati manfaat luarbiasanya Air murni buatan sang Illahi. Yes…yes.yes……semangat sendiri untuk mensuport diri sendiri…hohoho??????????????

Untuk masalah sapih menyapih (bahasa jawa rek…) akan saya ceritakan pada tema dan halaman yang berbeda nanti…. karena tidak kalah heboh dan seruuu loooo kerja kerasnya yang dilakukan para ibu untuk menghentikan ASI tersebut…hik…hik..hik…

Kembali ke judul page ini!!!!

Yang pernah saya ketahui dari orangtua, kakek nenek saya, anak usia dua tahun itu harus berhenti netek….saya sempet bertanya-tanya kenapa ya..”kok harus dua tahun?”…setelah usia makin tua…dengan semangat belajar dan mencari-cari jawaban dari pertanyaan itu, Alhamdulillah akhirnya ketemu dan diperjelas lagi oleh mbah google pagi ini…saya menemukan satu alasan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi tentang pemberian ASI ini.

Mau tahu banget…apa tahu ajaaaa….hehehee

Alasan pertama... “ternyata dalam islampun hal yang mungkin sepele ini sangat diatur oleh kitab Al-Quran loooo…berarti dibalik usia dua tahun itu ada sesuatu yang penting untuk tumbuh kembang anak-anak kita, sampai-sampai Allah SWT menempatkan surat tentang ASI”.

Biar lebih kereeen dan valid cerita ini, saya tulis dech ayatnya:

Allah berfirman: *“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”* [QS Al Baqarah: 233].

Ayat diatas adalah salah satu bentuk kasih sayang yang diajarkan Islam mengenai penyusuan atau pemberian ASI (air susu ibu) kepada anak yang baru lahir hingga dua tahun.

Kemudian untuk alasan yang kedua ini…eeeeee”menurut pengamatan dan pengalaman si penuliss doooang lo ya“..hehehe bisa di pakai atau di buang…heeemmm…..seandainya saya bisa nulis simbol sedih kayak di android yang keren itu…pasti tulisanku ini banyak simbol-simbol aneh kali yaaaa…..

Kembali ke tema….

Untuk alasan kedua ini saya pernah membaca tentang tahap-tahap perkembangan anak usia 2 tahun sampai 6 tahun “di artikel itu menyebutkan kurang lebih ada 6 tahap yang akan di lalui anak usia ini. Hanya satu tahap yang akan saya bahas tentunya, yang pasti tahapan yang sangat berhubungan dengan temaku kali ini dooong…yaitu tahapan “Belajar memahami benar salah sehingga bisa mengembangkan atau mengasah kata hati atau hati nurani bayi kita”.

Luarbiasa banget kalau ngomongi tentang hebatnya kata hati atau hati nurani ini…hati nurani jika tidak di asah atau mendapat pupuk, gizi dari orang terdekat bahkan lingkungan maka hati nurani anak-anak kitapun tidak akan tumbuh sesuai dengan tujuan Tuhan. Akan tertutup dengan nafsu yang mematikan. huuussss kok ngomongnya mulai ngalor ngidol yaaaaa….

Looooo beneran looo jika sejak usia dini banget, anak kita sudah terbiasa dengan orangtua dan lingkungan yang penuh kasih sayang, melindungi, menjaga, mensuport bukan memaksa, pokoknya yang baik dech.. dalam arti baiknya bukan semua kemauan anak diikuti looo ya….pasti untuk tahap ini akan di lalui dengan bagus.

Perlu di ketahui juga, anak kecil kita itu dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kenikmatan dianggapnya baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk (hedonisme adalah aliran yang menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya bertujuan mencari kenikmatan dan kebahagiaan).

Dari inilah alasan kedua si penulis muncul…dari menghentikan penyusuan tersebut anak harus belajar tentang aturan salah benar, boleh dan tidak boleh, bahkan baik dan buruk.

Sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat), manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan/kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain.

Anak mengenal pengertian baik dan buruk, benar dan salah ini dipengaruhi oleh pendidikan yang diperolehnya. Pada mulanya, anak belajar apa yang dilarang itu berarti buruk atau salah dan apa yang diperbolehkan itu berarti baik dan benar. Pengalaman ini merupakan permulaan pembentukkan kata hati anak. Perkembangan selanjutnya terjadi melalui nasihat, bimbingan, buku-buku bacaan dan analisis pikiran sendiri. Sesuatu yang penting dalam mengembangkan kata hati anak adalah suri teladan dari orang tua dan bimbingannya. Hal ini lebih baik daripada penggunaan hukuman dan ganjaran, meskipun dalam situasi tertentu masih tetap diperlukan.

Untuk masalah hukuman dan ganjaran inilah yang menjadi pertanyaan???? kapan hukuman  itu di berikan??? tapi kelihatan sereeem dech kata-kata hukuman…kita ganti aja ya kata hukuman itu..”karena saya biasanya menggunakan pada anak-anak kami itu kata-kata “konsekwensi”…lebih halus dan lebih humanisme kali….hehehehe “akukan penyuka Psikologi Humanisme”…

Dengan konsekwensi itulah sejak usia dua tahun saya mulai mengenalkan ketegasan, kedisiplinan dan kemandirian pada anak-anak kami. Bagaiman caranya….”anak akan bisa berhenti menyusu jika orangtua tega melihat dan mendengar tangisan, rengekan anak untuk minta ASI… jika kita tidak kuat dan akhirnya menyerah karena merasa kasihan…heeemm maka gagal dech usaha keras berhenti netek…kita harus tahu cara mengalihkan anak kita agar bisa tidur dengan tanpa menyusu….itu luarbiasaaaaa beraaattt loooo…kecuali untuk bunda yang biasa memberi dot pada si bayi mungkin tidak berat-berat amat….tapi saya berusaha tidak mengenalkan dot pada kedua anak kami. Alhamdulillah berhasiiiilllll no dot dan no empong.

Kira-kira apa konsekwensi dalam kasus di atas??? ya pastinya anak akan belajar tentang larangan tidak boleh dan boleh. Saat adanya proses pengenalan itu, tidak mungkin dooong kita sabagai ibu hanya diam saja mendengar rengekan anak….pasti kita mulai memberi bimbingan, kenapa berhenti netek? kenapa harus berganti cara agar dia tertidur dan banyak lagi. Dan tiap anak pasti punya pengalaman dan cara yang berbeda untuk memahami tahap tersebut.

Contoh anak cantikku yang ada di gambar ” kami sudah berjalan hampir 3 minggu melakukan proses penghentian ASI dan sampai sekarang terkadang dia masih susah saat mau tidur…dia pasti akan merengek dan menangis hebat dengan alasan-alasan yang terkadang menyebabkan kemarahanku muncul….hik..hik..(maafkan umi ya sayang)”. Alhamdulillah dengan perjuangan si cantik sedikit demi sedikit dia tidak kaku dan bersikeras dengan keinginannnya saat mau tidur…yang jelas kata “TIDAK” sering didengarnya saat ini. Dari kata “tidak” inilah saya memulai mengenalkan pada anak-anak kami tentang aturan benar salah tersebut. Inilah yang aku sebut proses memahami.. Pastinya tidak hanya itu yang kami alami saat penyapihan….

Yaaaaa si cantik banguuuuun dech…tulisan juga berhenti dulu yaaaa…semoga bermanfaat…

Alhamdulillahirrobbil’alamin…