February 20

Horeeee….Aku Bisa Bangun Cepat

“Assalamu’alaikum mi,,,,Wa’alaikummussalam kak Fatan…” kalimat ini adalah awal percakapan kami di telepon tadi pagi.

Percakapan selanjutnya……

umi     : “kak fatan lagi batuk, ya?”

Fatan : “iya, dikit”

Umi    : “sudah makan?”

Fatan : “sudah”

Fatan : “umi….sekarang aku sudah bisa bangun cepat looo”

Umi    : “waw, hebat dong. Gimana caranya kak?”

Fatan :“Waktu umi pengasuh gedor-gedor tempat tidur, sambil bilang bangun-bangun….saya langsung bangun, langsung turun dan langsung mandi, mi”

Fatan : “sekarang aku bukan yang terakhir bangunnya, mi”

Umi   : “yaaa…kak Fatan luarbiasa, enak-kan bangun langsung mandi?”

Fatan :”heeh, ngantuknya langsung hilang. Oya mi, besok kalau umi kesini, saya tidurnya tetap di atas, umi dan adek di bawah”

Umi   :” iya, emangnya kenapa?”

Fatan :”kalau aku tidur bawah, takutnya tidak bangun lagi. Jadi umi banguninnya tinggal pukul-pukul tempat tidur Fatan, ya”

Umi   :”oke dech”

Percakapan diatas adalah sebagian dari percakapan tadi pagi. Rasanya terharu sekali (jika saja kakak ada didepanku akan kupeluk erat, akan ku cium kamu sayang) tapi apalah daya kita masih harus dipisahkan oleh jarak. Doa dan rasa syukur yang langsung saya lakukan ketika telepon kami matikan, hanya sesak di dada ini, hanya merinding semua tubuh ini, hanya mata berkaca-kaca, saat mendengar perkembangan luarbiasa positifnya bagi saya. Apalagi terdengar dari mulut kak Fatan sendiri.

Luarbiasa kak Fatan. Semoga terus menjadi anak yang sholeh.

Alhamdulillahirrobbil’alamin

 

 

 

 

 

Category: Cerita Anak | Comments Off on Horeeee….Aku Bisa Bangun Cepat
February 10

Haruskah Jauh supaya Aku Mandiri

fatanok

Hampir dua tahun, aku jauh dari umi dan abi. Usia ku 8 tahun. Usia 8 tahun adalah usia dimana anak-anak masih enak-enak bermanja-manja dirumah dengan ayah dan bundanya, masih minta disuapin, masih ini/itu dikerjakan ayah/bundanya atau pembantu jika punya pembantu. Pergi sekolah minta antar/jemput dan banyak lagi yang jelas mereka berbeda dengan kami di pesantren. Saya sejak usia 6 tahun sudah belajar atau membiasakan serba sendiri tanpa umi dan abi. Mulai bangun tidur pukul 04.00, hanya umi pengasuh yang membangunkan, itupun hanya sambil lalu membangunkannya, karena bukan saya saja yang harus dibangunkan umi pengasuh. Jika saya tidak punya semangat untuk bangun sendiri, otomatis saya ketinggalan teman-teman. selain bangun tidur, mandi, makan berangkat sekolah semua saya kerjakan sendiri dan sekolahpun kita jalan kaki. Pulang sekolah saya hanya bertemu teman-teman yang kondisinya sama dengan saya, tidak ada orang tua yang membantu melepas sepatu, baju seragam kita. Sampai malam kegiatan seperti mengaji, belajar dan makan malam tetap sendiri, sampai tidurpun, kita tidak ada yang meninakbobokan, jika panas kita kipas-kipas sendiri, jika badan gatal digigit nyamuk kita garuk dan kasih obat gatal sendiri.

Apakah seperti diatas, termasuk kategori anak mandiri?…jika iya “maka benar agar mandiri, saya harus jauh dari orangtua, karena jika saya masih sekolah dekat rumah, hal-hal diatas kemungkinan besar, saya belum bisa melakukannya.

Sungguh capek, dan kerja keras yang tidak boleh berhenti untuk mandiri…..proses yang sangat melelahkan ini, meskipun saya belum mandiri banget seperti teman-teman yang lain, waktu liburan di kampung banyak orang bilang bangga pada saya, karena “saya kelihatan lebih dewasa untuk anak seusia saya, saya lebih berani, penuh semangat, lebih percaya diri”. Wajarlah karena mereka melihat anak-anak yang dibiasakan manja, serba enak, atau serba kecukupan di rumah.

Kata orang pintar dan hasil studi menunjukkan bahwa orang yang lebih mandiri adalah orang yang bahagia! Hal ini karena kita merasa lega dan sukacita ketika kita dapat mengambil hidup kita dibawah tangan kita sendiri.

Studi diatas benar, saya terlatih mandiri sehingga oranglain melihat saya lebih percaya diri, selalu ceria, berani dan selalu semangat jika melakukan sesuatu.

Akan tetapi, aku terkadang masih berfikir: “kenapa umi dan abi menyekolahkan aku jauh dari mereka?”…saat fikiran itu muncul “umi pengasuh, Ibu/Bapak guru dan teman-teman yang menjawab…”kita disini biar lebih mandiri, bertanggung jawab dan tidak tergantung pada orangtua” karena kemandirian  sejak dini akan melatih dan bermanfaat saat kita dewasa kelak. Agar tidak mudah dibodohi orang.

Di dalam buku, anak usia 2 atau 3 tahun mempunyai  sebuah tahapan perkembangan yang mana anak-anak ingin memiliki otonomi/kebebasan yang lebih luas. Tetapi para orangtua kebanyakan tidak memahami perubahan atau ciri-ciri yang ditunjukkan anak-anak mereka, sehingga orangtua terkadang terlalu melindungi anak. Ketika anak ingin naik kursi atau meja, kita melarangnya, “jangan, nanti jatuh”. Ketika anak memegang Hp mahal yang baru kita beli, “awas nanti rusak”, Nah, karena sering dilarang anak menjadi pasif dan hanya menunggu apa yang kita berikan atau kita perbolehkan. Ketika hal ini terjadi bertahun-tahun, tanpa sadar kita sudah menanamkan atau membentuk pola dalam diri anak kita, untuk menjadi pasif karena takut dan kemandirianpun tidak anak miliki. Jadi orangtua perlu tahu tentang pentingnya perkembangan otonomi tersebut. Anak makin kita beri kebebasan yang tertata maka anak kita akan menjadi anak yang mandiri, bukan anak yang manja.

Dari buku itulah, alasan abi dan umi memutuskan menyekolahkan saya ditempat yang tepat buat membentuk kemandirian saya. Yaitu di Ma’had Al-Zaytun merupakan pusat pendidikan pengembangan budaya toleransi dan perdamaian.

Jadi dengan sekolah jauh, Abi dan umi memberi saya suatu kesempatan untuk melakukan apa yang saya mampu lakukan. Itulah kunci untuk membantu saya memiliki karakter mandiri, percaya diri, dan mampu mengerjakan segala sesuatu dengan tanggung jawab penuh.

Category: Cerita Anak | Comments Off on Haruskah Jauh supaya Aku Mandiri
February 1

Kenangan Kamar 208

208

208 adalah nomor kamar pertama saat aku tinggal di asrama Persahabatan Ma’had Al-Zaytun. Dikamar itu banyak kenangan sedih, dan menyenangkan. Di kamar 208 ini ada 10 anak yang tinggal. Kamar kami sangat luas, meskipun yang tinggal 10 anak, kami masih bisa main bola di kamar, main petak umpet di dalam kamar saat waktunya tidur siang. Kalau ketahuan umi pengasuh tidak tidur pasti kena marah….

Kamar mandi ada 3 kamar, jadi setiap kegiatan tidak sampai tertinggal, karena antrinya tidak panjang dech….kecuali saya yang bisa terlambat, karena saya belum bisa seperti teman yang lain, teman-teman saat dibangunkan umi pengasuh ada yang langsung bangun dan langsung lepas baju lalu mandi, ada yang hanya dengar adzan langsung bangun, ada yang bangun tapi tidur lagi di lantai sambil nunggu kamar mandi yang di sukai, jadi walaupun ada kamar mandi yang kosong tetapi tidak disukai dia tidak mau mandi di kamar mandi yang kosong, dia memilih nunggu teman sampai selesai, baru kita mandi di kamar mandi favorit.

Hebat-hebat kan teman-teman saya….hehe…hehe….Kalau saya selalu bikin umi pengasuh marah-marah, habis paling sulit dibangunkan, padahal saat dibangunkan saya menjawab dan membuka mata, tetapi tidak segera bangun dan kekamar mandi seperti teman-teman. Jadinya selalu terakhir bangun. “Aku sendiri juga tidak tahu kenapa saya susah bangun ya kalau dibangunin?”. Mungkin masih awal di asrama, jadi membuat aku super males untuk mandi pagi. Tetapi lama kelamaan umi pengasuh saya, capek juga marah-marah, dan saya juga bosen dengerin umi pengasuh ngomel, sehingga kalau dengar suara umi pengasuh  bilang “bangun-bangun…”saya langsung bangun dan duduk, tetapi hanya duduk-duduk di tempat tidur dengan alasan antri di tempat tidur saja daripada antri di kamar mandi. Setelah umi pengasuh keluar untuk membangunkan anak di kamar lain, aku tidur lagi, sambil tidur-tidur ayam, tiba-tiba terdengar suara umi pengasuh membuka pintu, saya langsung “lariiiiii kekamar mandi tanpa bersuara” biar tidak di marahi. Setelah selesai mandi “eeeee umi pengasuh masih di kamar dan bilang seperti biasanya”Ya Allah…fatan baru mandi” dengan nada tinggi gitu….aku langsung cepat-cepat pakai seragam dan lari ke selasar untuk sholat subuh…kabuuuuuur biar tidak lama-lama dengar umi pengasuh bernyanyi…”jangan ditiru ya….”untuk adegan ini…hehehe

Kami bersepuluh ini, berasal dari daerah yang berbeda-beda, ada yang dari Trenggalek, Kediri, Bandung, Jakarta dan saya dari Sidoarjo. Yang lucu Itu gaya bahasa kami yang berbeda-beda, kami yang dari Jawa Timur khas dengan bahasa Indonesia yang medok, jadi sering ditirukan atau ditertawakan oleh kakak- kakak dan teman-teman sekamar dech….tetapi kami cuek saja tuh….

Awalnya kami belum saling mengenal, jadi masih saling egois, sering bertengkar gara-gara mainan, tempat duduk dan banyak dech….hampir-hampir aku tidak kerasan, karena ada teman sekamar yang suka usil, mengganggu, kasar. Tetapi lama-kelamaan karena sudah saling kenal, merasa senasib seperjuangan kali ya (jauh dari rumah, apa-apa dikerjakan sendiri dll)…jadinya muncullah saling berbagi, saling mengingatkan, saling menolang, pokoknya kebersamaan mulai ada. Tidak secepat dan semudah itu untuk merubah sifat egois kami looooo, perjuangan umi pengasuh super hebat….bisa membuat kami lumayan baik dech…hehehe

Category: Cerita Anak | Comments Off on Kenangan Kamar 208