July 15

Bahagia itu Perjuangan dan Pengorbanan

Heeeeeeeeeeeeeeem…Banyak orang bilang “bahagia itu sederhana, bisa kumpul dengan keluarga, bisa makan sepiring dengan lauk seadanya dengan orang terkasih itu bahagia, ada juga waktu dalam perjalanan sekitaran daerah jawa tengah terpampang besar baliho di pinggir-pinggir jalan menyatakan yang intinya “bisa menemukan jalan pulang kerumah dan bertemu keluarga itu bahagia”.

Jujur setelah membaca baliho tersebut saya termenung dan menutup mata kurang lebih 10 menit….dan apa yang terjadi?….otak dan hati kecilku menolak itu, sungguh saya menolak kalimat “bahagia itu sederhana”.

Memang sih, saya senang jika bisa kumpul dengan orangtua, kumpul dengan teman dan makan dengan daun pisang rame-rame, tapi kalau boleh bilang itu namanya “bahagia egois” yang bahagia ya hanya kita yang melakukan saja, benar tidak ya pikiran saya itu??

Coba kita renungkan, apa betul ketika kita makan enak bareng anak istri/ anak suami jika teman atau saudara kita kelaparan, bahkan mereka ada yang menjadi perilaku kejahatan…??????apa hati nurani kita bahagia????…saya yakin kita ( saya dan anda) tidak bahagia. Karena Allah SWT menciptakan kita di dunia ini untuk menjadi makhluk sosial yang harus saling bekerja sama, tolong menolong, berkasih sayang dan banyak lagi tugas kita.

Aku bingung jika ditanya,”apa kamu bahagia sekarang?”, jika menurut kamu kalau punya rumah sendiri, bisa makan minum enak setiap hari, anak-anak sehat, kendaraan ada, itu ukuran bahagia, maka? “aku bahagia”.

Akan tetapi ayolah teman, walaupun kita hanya sebagai perempuan biasa yang hanya memasak didapur, mencuci, mengepel, memandikan si bayi yang lucu, tapi kita harus punya keinginan yang besar untuk keluarga kita, saya selalu bilang sama si bungsu jadilah orang yang “awalul/pertama dalam melakukan sesuatu, jangan ikut-ikutan orang yang tidak benar, walaupun beda jika benar maka akan banyak yang sayang nantinya.

Alhamdulillah….selama ini saya selalu diajak suami saya untuk berfikir besar, panjang, dan leeebaaarrr (coki-coki kaliiiii). Karena saya itu orangnya suka menyepelekan masalah dan akhirnya masalah itu yang menyepelekan saya….hahahha… maksutnya itu saya belajar dari kata “sederhana”  jika kita selalu menyederhanakan sesuatu maka hasilnyapun akan sederhana bukan yang WAOOWWW BANGET.  Jika kita ingin mencapai sesuatu yang besar maka hukumnya bagi saya dan suami, pikiran dan tindakan kita harus besar dan berani untuk meraihnya bukan main-main.

Bahagia itu bagi saya adalah hasil dari tindakan yang penuh perjuangan dan pengorbanan yang tanpa henti.  Dan hasil itu akan kita dapatkan sesuai proses yang kita jalankan, bisa cepat atau lama.  Pikiran kita akan besar jika muatan atau isinya juga luas, banyak dan terbuka akan semua ilmu baru.

Ngomong-ngomong pengorbanan, kita lihat foto diatas, itu adalah foto anak bungsu kami dan teman-teman kamar barunya di asrama pesantren Al-Zaytun. Mereka kelas 4 MI, saya tidak bisa memungkiri bahwa perjuangan dan pengorbanan mereka sangat besar sekali, mereka harus menunda keinginan untuk makan bermacam-macam menu yang pastinya lezaaatt di luaran sana, mereka harus mereda keinginan bermain dengan situasi yang banyak hiburan di luaran sana, mereka harus menahan rasa kangen, rindu dengan keluarganya dan mereka harus menahan rasa minder saat diejek teman-temannya, rasa sakit, capek, bahkan khawatir akan tidak berjumpa dengan ibu/bpk adek kakaknya. Mereka juga harus bangun sebelum subuh untuk memulakan kegiatan sekolah.  Banyak banget loooo yang mereka pelajari, dan pastinya tidak akan diperoleh oleh anak seusia mereka yang hidup bareng kedua orangtuanya.

Oooo Ya, perjuangan dan pengorbanan kami sebagai orang tua juga tidak mudah loooo ya…..menyekolahkan si bungsu di pesantren adalah awal perjuangan dan pengorbanan kami yang berat, yang mana kami harus ikhlas bener-bener ikhlas harus berjauhan jarak, tidak sekamar lagi , hanya bisa mendengar kabar sibungsu saat sakit lewat hp, rasa khawatir jika si bungsu di ganggu temannya dan pastinya banyak hal lah, hal-hal itulah yang harus kita hadapi. Selama ini kita menghadapinya dengan ” keyakinan” , apa itu? yaaaa yakin dan matep bahwa masalah-masalah itu adalah pembelajaran buat anak kami yang akan membuat dia kuat serta bisa menyelesaikan setiap masalah yang dia hadapi nantinya, sudah pasti jika anak kami kuat dan siap serta bisa menghadapi dunia penuh masalah ini maka kami sebagai orangtua hanya rasa bahagia yang terpancarkan.

Betul tidak jika doa anak sholeh adalah salah satu penghapus dosa orangtua? Karena itulah saya berfikir bahwa doa dan setiap tindakan anak sholeh adalah jembatan mengantarkan kebahagiaan keluarga besar kami semua, jadi bukan hanya orangtuanya saja yang kena imbas kesholehannya, yang pasti kakek nenek bahkan nenek moyang kita juga bisa kena looo.

Alhamdulillahirrobbil’alamin

Yaaaa itulah maksut tulisan tentang bahagia saya…semoga bermanfaat.

 

Category: Uncategorized | Comments Off on Bahagia itu Perjuangan dan Pengorbanan
June 4

Usia Dua Tahun Adalah Proses Memahami

Foto Nur Widayati.

“Horeeeeee…Aku berhasil menyapih si gendok yang luarbiasa menguras tenaga dan otak-ku……….hahahaha”.

Pasti sudah tahu doong jika bayi sudah di sapih atau berhenti minum ASI dengan terpaksa (bahasa kasarnya) pastinya usia sudah dua tahun, walaupun banyak sih bayi yang putus minum ASI di tahun pertama atau bulan ke 13, 14 dan seterusnya. Alhamdulillah kedua anak kami selama dua tahun tepat mereka menikmati manfaat luarbiasanya Air murni buatan sang Illahi. Yes…yes.yes……semangat sendiri untuk mensuport diri sendiri…hohoho??????????????

Untuk masalah sapih menyapih (bahasa jawa rek…) akan saya ceritakan pada tema dan halaman yang berbeda nanti…. karena tidak kalah heboh dan seruuu loooo kerja kerasnya yang dilakukan para ibu untuk menghentikan ASI tersebut…hik…hik..hik…

Kembali ke judul page ini!!!!

Yang pernah saya ketahui dari orangtua, kakek nenek saya, anak usia dua tahun itu harus berhenti netek….saya sempet bertanya-tanya kenapa ya..”kok harus dua tahun?”…setelah usia makin tua…dengan semangat belajar dan mencari-cari jawaban dari pertanyaan itu, Alhamdulillah akhirnya ketemu dan diperjelas lagi oleh mbah google pagi ini…saya menemukan satu alasan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi tentang pemberian ASI ini.

Mau tahu banget…apa tahu ajaaaa….hehehee

Alasan pertama... “ternyata dalam islampun hal yang mungkin sepele ini sangat diatur oleh kitab Al-Quran loooo…berarti dibalik usia dua tahun itu ada sesuatu yang penting untuk tumbuh kembang anak-anak kita, sampai-sampai Allah SWT menempatkan surat tentang ASI”.

Biar lebih kereeen dan valid cerita ini, saya tulis dech ayatnya:

Allah berfirman: *“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”* [QS Al Baqarah: 233].

Ayat diatas adalah salah satu bentuk kasih sayang yang diajarkan Islam mengenai penyusuan atau pemberian ASI (air susu ibu) kepada anak yang baru lahir hingga dua tahun.

Kemudian untuk alasan yang kedua ini…eeeeee”menurut pengamatan dan pengalaman si penuliss doooang lo ya“..hehehe bisa di pakai atau di buang…heeemmm…..seandainya saya bisa nulis simbol sedih kayak di android yang keren itu…pasti tulisanku ini banyak simbol-simbol aneh kali yaaaa…..

Kembali ke tema….

Untuk alasan kedua ini saya pernah membaca tentang tahap-tahap perkembangan anak usia 2 tahun sampai 6 tahun “di artikel itu menyebutkan kurang lebih ada 6 tahap yang akan di lalui anak usia ini. Hanya satu tahap yang akan saya bahas tentunya, yang pasti tahapan yang sangat berhubungan dengan temaku kali ini dooong…yaitu tahapan “Belajar memahami benar salah sehingga bisa mengembangkan atau mengasah kata hati atau hati nurani bayi kita”.

Luarbiasa banget kalau ngomongi tentang hebatnya kata hati atau hati nurani ini…hati nurani jika tidak di asah atau mendapat pupuk, gizi dari orang terdekat bahkan lingkungan maka hati nurani anak-anak kitapun tidak akan tumbuh sesuai dengan tujuan Tuhan. Akan tertutup dengan nafsu yang mematikan. huuussss kok ngomongnya mulai ngalor ngidol yaaaaa….

Looooo beneran looo jika sejak usia dini banget, anak kita sudah terbiasa dengan orangtua dan lingkungan yang penuh kasih sayang, melindungi, menjaga, mensuport bukan memaksa, pokoknya yang baik dech.. dalam arti baiknya bukan semua kemauan anak diikuti looo ya….pasti untuk tahap ini akan di lalui dengan bagus.

Perlu di ketahui juga, anak kecil kita itu dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kenikmatan dianggapnya baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk (hedonisme adalah aliran yang menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya bertujuan mencari kenikmatan dan kebahagiaan).

Dari inilah alasan kedua si penulis muncul…dari menghentikan penyusuan tersebut anak harus belajar tentang aturan salah benar, boleh dan tidak boleh, bahkan baik dan buruk.

Sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat), manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan/kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain.

Anak mengenal pengertian baik dan buruk, benar dan salah ini dipengaruhi oleh pendidikan yang diperolehnya. Pada mulanya, anak belajar apa yang dilarang itu berarti buruk atau salah dan apa yang diperbolehkan itu berarti baik dan benar. Pengalaman ini merupakan permulaan pembentukkan kata hati anak. Perkembangan selanjutnya terjadi melalui nasihat, bimbingan, buku-buku bacaan dan analisis pikiran sendiri. Sesuatu yang penting dalam mengembangkan kata hati anak adalah suri teladan dari orang tua dan bimbingannya. Hal ini lebih baik daripada penggunaan hukuman dan ganjaran, meskipun dalam situasi tertentu masih tetap diperlukan.

Untuk masalah hukuman dan ganjaran inilah yang menjadi pertanyaan???? kapan hukuman  itu di berikan??? tapi kelihatan sereeem dech kata-kata hukuman…kita ganti aja ya kata hukuman itu..”karena saya biasanya menggunakan pada anak-anak kami itu kata-kata “konsekwensi”…lebih halus dan lebih humanisme kali….hehehehe “akukan penyuka Psikologi Humanisme”…

Dengan konsekwensi itulah sejak usia dua tahun saya mulai mengenalkan ketegasan, kedisiplinan dan kemandirian pada anak-anak kami. Bagaiman caranya….”anak akan bisa berhenti menyusu jika orangtua tega melihat dan mendengar tangisan, rengekan anak untuk minta ASI… jika kita tidak kuat dan akhirnya menyerah karena merasa kasihan…heeemm maka gagal dech usaha keras berhenti netek…kita harus tahu cara mengalihkan anak kita agar bisa tidur dengan tanpa menyusu….itu luarbiasaaaaa beraaattt loooo…kecuali untuk bunda yang biasa memberi dot pada si bayi mungkin tidak berat-berat amat….tapi saya berusaha tidak mengenalkan dot pada kedua anak kami. Alhamdulillah berhasiiiilllll no dot dan no empong.

Kira-kira apa konsekwensi dalam kasus di atas??? ya pastinya anak akan belajar tentang larangan tidak boleh dan boleh. Saat adanya proses pengenalan itu, tidak mungkin dooong kita sabagai ibu hanya diam saja mendengar rengekan anak….pasti kita mulai memberi bimbingan, kenapa berhenti netek? kenapa harus berganti cara agar dia tertidur dan banyak lagi. Dan tiap anak pasti punya pengalaman dan cara yang berbeda untuk memahami tahap tersebut.

Contoh anak cantikku yang ada di gambar ” kami sudah berjalan hampir 3 minggu melakukan proses penghentian ASI dan sampai sekarang terkadang dia masih susah saat mau tidur…dia pasti akan merengek dan menangis hebat dengan alasan-alasan yang terkadang menyebabkan kemarahanku muncul….hik..hik..(maafkan umi ya sayang)”. Alhamdulillah dengan perjuangan si cantik sedikit demi sedikit dia tidak kaku dan bersikeras dengan keinginannnya saat mau tidur…yang jelas kata “TIDAK” sering didengarnya saat ini. Dari kata “tidak” inilah saya memulai mengenalkan pada anak-anak kami tentang aturan benar salah tersebut. Inilah yang aku sebut proses memahami.. Pastinya tidak hanya itu yang kami alami saat penyapihan….

Yaaaaa si cantik banguuuuun dech…tulisan juga berhenti dulu yaaaa…semoga bermanfaat…

Alhamdulillahirrobbil’alamin…

 

 

 

Category: Uncategorized | Comments Off on Usia Dua Tahun Adalah Proses Memahami
May 31

Hikmah Ramadhan saat di Kakak

 


Rabu kemarin,tepatnya tanggal 24 Mei 2017 kita sekeluarga lagi di ma’had untuk menjemput keponakan kelas 6, dikarenakan untuk kelas 6 sudah diperkenankan liburan di masyarakat duluan. Selain jemput, sekalian jenguk si jagoan yang kelas 3, siapa lagi kalau bukan kakak Fatan.

Alhamdulillah lagi…saat berada di ma’had hari Sabtunya adalah awal bulan Ramadhan…jadinya makin seruuu dan membuat bulan Ramadhan kali ini merupakan momen special kita..

Gimana tidak sepesial? kita bisa teraweh bareng kakak di Al-hayat, bisa sahur, berbuka bareng…yang biasanya jarak kurang lebih 600 KM memisahkan kebersamaan kita dengan kakak. Yaaaa Alhamdulillah awal Ramadhan tahun ini kita bisa membukanya dengan kumpul bersama.

Selain itu ada dedek Fakhrin yang menemani kita untuk tahun ini di Ma’had…selamat datang ya dedeek…

Yang tidak kalah seruuunya…ada ilmu tentang toleransi yang di sampaikan Syaekh Al-Zaytun pada saat di akhir sholat Jum’at…Walaupun saya tidak dengar langsung dari Beliau…tetapi sumber yang saya dapat sangat akurat looo…hehehe siapa lagi kalau bukan suami tercinta…hahahaha…makanya saya berani menulis di sini dech…siapa tahu cerita toleransi ini bisa menambah wawasan dan bisa kita terapkan dalam diri kita….khususnya si penulisnya dooong.

Haaiiiii…masih pada mau baca cerita tentang toleransi yang saya dapat yaaa…

ok dech…yuk kita mulai bercerita…

Karena saat Jum’at kemarin, malam harinya sudah malam Ramadhan pastinya membahas tentang toleransi ketika kita berpuasa. Ada satu poin yang menurut saya harus tertulis dan masuk dalam cerita ngalor ngidul saya…..yaitu: kata suami:”kita yang puasa harus menghormati yang tidak puasa serta yang puasa jangan mengharap untuk dihormati” …kalimat itulah yang saya tangkap dan inget tentunya….jika ada kata yang salah mohon pembenarannya yaa…

Isi dari kalimat itu…luarbiasa looo menurut saya sih…karena selama ini selalu yang terdengar “yang tidak puasa harus menghormati yang puasa dong”…jadinya jika otak kita terbiasa dengan anjuran tersebut…wajarlah kita terkadang mengajarkan pada anak-anak kita untuk menilai buruk pada orang yang tidak puasa….seharusnya kitalah yang menjalankan puasa, harus pintar dan arif bijaksana loooo… karena yang berpuasalah orang yang benar-benar memahami makna apa itu ibadah….

Ibadah puasa adalah salah satu ibadah yang mudah dan nikmat jika dilaksanakan dengan pemahaman ilmu dan ketidakterpaksaan…menurut saya lagi…selama ini ada keterpaksaan looo para teman saudara tetangga kita yang tidak puasa..gimana tidak terpaksa coba… jika semua toko atau warung yang berjualan berbau makanan atau minuman yang membatalkan puasa harus tutup..kita harus sadar dooong saudara,teman, tetangga kita tidak semua menjalankan puasa kan? jadinya yaa memang kita yang berpuasa yang harus menghormati mereka yang tidak puasa…setuju tidak?????

Alhamdulillah…di sekolah kakak mempunyai motto kembangkan budaya toleransi dan budaya perdamaian…tidak hanya motto looo yaa…di sana benar-benar dari usia dini sudah mulai tertata dengan baik dalam arti mereka menerapkan toleransi dan perdamaian itu dalam lingkungan asrama,sekolah dan tentunya di masyarakat saat liburan..

Intinya jika kita bisa mempraktekkan untuk menghormati orang yang tidak puasa dengan membiarkan orang yang tidak puasa melakukan aktifitasnya seperti hari-hari biasa..membiarkan para penjual untuk berjualan seperti bulan-bulan lainnya maka pikiran dalam otak kita hanya yang positiflah yang keluar…indah bukan jika semua orang selalu berfikiran positif?…pasti penyakit akan menjauh dari tubuh kita, pasti indah hidup bertetangga, pasti penuh berkah kehidupan kita..

yaaa inilah hikmah selama berada di ma’had tempat kakak belajar tentang kehidupan yang mau saya ceritakan….semoga bermanfaat….

 

Category: Cerita Sang Ibu | Comments Off on Hikmah Ramadhan saat di Kakak