March 20

Profesi Ibu Rumah Tangga adalah Favorit Suami-ku

muslimah

Alhamdulillah sejak saya mengandung  anak kami yang pertama, suami sangat mendukung atas keputusan saya untuk meninggalkan profesi saya sebelumnya.

Suami saya memberi alasan kenapa setuju saya untuk berprofesi sebagai ibu rumah tangga, karena suami pernah melihat sebuah film luar, yang kisahnya tentang kehidupan keluarga yang mana kedua orangtua sibuk bekerja diluar dan anak dititipkan pada seorang pengasuh……singkat cerita “sang anak menjadi liar dalam setiap perilakunya, dan kehidupan keluarga mereka hancur porak-poranda, tidak ada yang saling memahami dan toleransi dalam keluarga hilang semua. Sehingga perceraian terjadi, anak menjadi manusia yang merasa tidak berguna hidup di dunia ini, tidak mengenal lagi siapa ayah/ibunya.

Selain alasan diatas, suami juga memberikan wejangan yang luarbiasa kuat mempengaruhi keputusan saya… apa itu………?

Suami membacakan hadist pada saya. yang bunyinya …….

Wanita yang terbaik adalah yang bertanggungjawab untuk mengurus rumah dan anak-anaknya. Sedangkan wanita karir terlalu sibuk pada pekerjaan dan karir, sehingga pendidikan terhadap anak dilalaikan. Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالإِمَامُ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ فِى أَهْلِهِ رَاعٍ ، وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinan pada rakyatnya. Kepala keluarga adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai kepemimpinannya tersebut. Seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, ia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai hal itu.” (HR. Bukhari no. 2409).

Saat itu juga saya membaca “Bismillahirrohmanirrohim…” saya mohon ijin untuk keluar dari kantor dan alhamdulillah saya diijinkan untuk berhenti.

kantor

Tidak mudah untuk menjadi ibu rumah tangga tentunya….pihak keluarga sudah menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi dengan harapan bisa bekerja di kantoran, bisa menjadi PNS, mendapatkan gaji yang besar dan banyak lagi alasan lainnya.

Pihak temanpun juga begitu, setiap bertemu selalu bertanya, kerja di mana sekarang? dengan tersenyum saya menjawab “meggemukkan suami dan anak di rumah”…..bukan ngurusin lo ya”……teman-teman sempat tertawa…..tapi setelah tertawa kembali muncul pernyataan yang lumayan indah untuk motivasi saya. ” Eman.. klo tidak kerja, capek-capek sekolah tinggi haya dirumah”, ” cari pembantu aja untuk urusan anak”.

irt

Tidak semudah dan sependek itu untuk masa depan keluarga saya. Saya dan suami percaya jika kami bisa menjalankan tanggungjawab sebagai ibu rumah tangga dan sebagai suami yang baik dan sesuai amanah Tuhan. Dengan sendirinya Allah Swt akan membantu kelancaran keluarga kami.

Walaupun saat itu secara ekonomi, suami mungkin harus banting tulang sendiri untuk memenuhi kebutuhan kami, yang hidup kita masih nomaden (pindah-pindah) dari satu tempat-ke tempat yang lain. Tidak peduli tempat tinggal bocor dimana-mana, tikus lari sana-sini, yang penting anak senang bermain, kita sudah senang melihatnya. Ada bubur buat anak kami,  alhamdulillah yang bisa kita berikan pada sang pencipta.

bocor

Provesi Ibu rumah tangga sangat luarbiasa, dilihat dari kuantitas waktu, tidak kalah dengan pegawai kantoran yang gajinya besar. bahkan jumlah waktu kerja ibu rumah tangga bisa dibilang lebih dari 24 jam…….alias tidak ada berhentinya.

Why…….?   Perempuan terbaik adalah yang bertanggungjawab untuk mengurus rumah dan anak-anaknya. Karena saat kita  berusaha dengan sebaik-baiknya menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu sekaligus istri adalah Ibadah di mata Allah Swt.

Bukankah, Manusia diciptakan di muka bumi ini adalah hanya untuk beribadah pada Allah Swt.  Saya yakin dengan keputusan yang kami ambil.

Alhamdulillah sampai detik sekarang, saya tidak pernah merasa kecewa dengan keputusan 8 tahun yang lalu. Bahkan saya bangga dengan apa yang saya capai sekarang, walaupun belum bisa membahagiakan orang disekitar kita, saya terus maju pantang mundur untuk berprovesi sebagai ibu rumah tangga.

ibu

Duhai Ibu … mendidik anak adalah investasi kita yang paling utama dibanding investasi yang lain , kitalah yang akan menuai hasilnya kemudian… Anak adalah amanah yang dipercayakan Allah kepada kita, kitapun akan dimintai pertanggungjwabannya kelak… Anak-anak kita membutuhkan seorang ibu yang senantiasa membimbingnya, memberikan bekal untuk masa depan mereka, dan juga bekal untuk kehidupan akhirat mereka kelak.. Dan ini bukanlah tugas yang ringan, bukan perkara remeh, dan tidak bisa dipandang dengan sebelah mata, melainkan tugas yang amat berat , dan sungguh mulia. Pantaslah jika dalam islam kedudukan ibu tiga kali lebih tinggi dari ayah. Ibumu, ibumu, ibumu, baru kemudian ayahmu, jawab Rasulullah SAW ketika ditanya siapakah yang harus kita hormati pertamakali.

Kita akan merasakan kebahagiaan dan kepuasan yang tiada terhingga dengan melihat hasil karya kita sendiri tanpa campur tangan siapapun untuk membuat bahagia keluarga kita.

Be Sociable, Share!


Copyright 2017. All rights reserved.

Posted March 20, 2015 by Nur Widayati in category "Cerita Sang Ibu