Seberapa Besar Faktor Lingkungan Mempengaruhi Anak

lingkungan

 

Menurut Prof. Dr. Jalaludin Rahmat, pakar komunikasi dan penulis buku ‘psikologi komunikasi’, faktor genetik atau keturunan bisa dikalahkan oleh faktor lingkungan dan nutrisi. “Nurture atau lingkungan bisa mengalahkan nature atau warisan biologis jika otak terus distimulasi,” jelas Jalaludin.

Dengan ungkapan tokoh diatas, saya sangat mendukung akan kebenarannya.Disamping itu saya juga percaya setiap anak secara genetik diberi kemampuan yang luarbiasa sama dari Tuhan. Tidak ada yang namanya anak gagal. Lain cerita jika pola asuh (lingkungan) salah atau kurang mendukung. Semua itu bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari anak kita. contoh kecil “anak saya adalah anak pemberani, secara pola asuh (lingkungan luar) sering menakut-nakuti dengan cerita hantu, atau distimulus terus menerus dengaan ketakutan maka anak saya sekarang agak penakut jika sendirian, takut gelap.

Dari contoh kecil diatas, kita sebagai orang tua harus segera peka terhadap perubahan-perubahan pada anak kita. Sehingga kita bisa segera mengatasi faktor lingkungan luar yang berefek buruk pada perkembangan anak kita.

 

gaged

 

Contoh yang agak besar : anak-anak kita sekarang hidup pada zaman yang super canggih, penuh alat Gadged yang bermacam-macam dan mudah di peroleh. Dari alat canggih itu anak kita bisa mudah mencari semua yang mereka inginkan. Apalagi sekarang berita pornografi, kekerasan adalah berita yang sepertinya sengaja di kemas dengan berbagai cara agar anak-anak muda kita rusak secara karakter, mental sehingga terbentuklah seperti robot atau hewan cara berfikir anak kita nantinya. Menakutkan sekali…..

Selain lingkungan sangat buruk mempengaruhi perkembangan anak, nutrisi yang dikonsumsi juga serba instan…lengkap sudah penderitaan anak-anak kita kedepannya.

Ada satu pakar lagi yang menyebutkan bahwa sumber manusia di negara tercinta kita sangat mengkhawatirkan. Yaitu Bapak Adre, beliau mengatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia saat ini ada di urutan ke 109 dari 179 negara. “Artinya sudah miskin, bodoh, sakit, sombong pula,” ujar Adre. Padahal sebentar lagi Indonesia akan memasuki tantangan milenium 3 yang merupakan era competitive intelligence.

Semoga bukan ketakutan,ketidakpedulian yang melanda kita sebagai orangtua, akan tetapi motivasi dan praktek untuk melindungi anak sehingga bisa merubah pandangan tentang anak-anak indonesia yang bodoh, miskin, sakit, sombong, menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan, bertanggungjawab, kaya hati, kaya segalanya, pintar, cerdas,kreatif, dan penuh kasih sayang.

 

Alhamdulillahirrobbil”alamin……

Be Sociable, Share!