Pendidikan Al-Zaytun Telah Membuka Mata Ku

Anak-anak itu aset bangsa.. yang harus dididik dengan baik dan benar sesuai tuntunan Ilahi agar tumbuh menjadi manusia yang ber-iman dan ber-ilmu. Bukan diajarai untuk merendahkan diri mereka sendiri dengan berbagai atribut yang sudah tidak sewajarnya seperti orang tidak punya harga diri lagi.

Banyak tokoh-tokoh pendidikan, Psikolog bahkan ahli parenting sering meneriakkan dengan lantang, hilangkan OSPEK yang tidak ada manfaatnya.

Seperti gambar di samping, kita pasti menyebutkan bahwa anak-anak kita lagi menjalankan Masa Orientasi Siswa (MOS), Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), atau kini disebut Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan di sekolah guna menyambut kedatangan siswa baru.

Masa orientasi lazim kita jumpai hampir di tiap sekolah, mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Bahkan tingkat SD sekarang sudah mulai bermunculan. Tak pandang itu sekolah negeri maupun swasta, semua menggunakan cara itu untuk mengenalkan almamater pada siswa barunya.

Ironisnya, kita akan Syok, gemetar dan mengalir air mata saat melihat foto dan membaca berita kekerasan OSPEK dan MOS di media sosial dan media masa. Tidak melulu jalan jongkok, kekerasan OSPEK dan MOS sudah sangat merendahkan dan melecehkan secara seksual seperti laporan siswa dalam artikel yang ditulis Kompas bahwa: “Mahasiswa baru laki-laki disuruh berhubungan seperti suami istri dengan para mahasiswi baru. “Yang tidak manusiawi juga, peserta ospek diberi singkong yang bentuknya seperti alat kelamin dan diminta untuk alat oral.” Foto-foto –kekerasan OSPEK, seperti yang diunggah oleh warga, menggambarkan derajat kekerasan yang makin tinggi. (https://www.change.org/p/mendiknas-m-nuh-stop-ospek-mos)

Akan tetapi jika saya melihat siswa-siswi Al-Zaytun pada gambar yang atas, mengingatkan akan pengalaman saya untuk anak kami. Pertama kali mengetahui Al-Zaytun saya merasakan ada angin segar untuk sekolah anak-anak kami. Karena jika anak-anak kami sekolah di Al-Zaytun akan terselamatkan dari kekejaman sistem pendidikan yang jauh dari ajaran Ilahi atau fitrah yang diberikan Tuhan. Yang pasti setelah anak kami sekolah disana, Anak kami belajar mencintai dan memahami akan negara kelahirannya, makin mengenal sejarah-sejarah tokoh agama, tokoh bangsa, belajar untuk bertanggung jawab dan menghormati tugas-tugas sebagai manusia sosial, dan belajar untuk mengaplikasikan perintah dan larangan Tuhan dalam kehidupan sehari-harinya.

Satu lagi yang membuat kami yakin akan Sekolah Al-Zaytun yaitu Al-Zaytun mempunyai bentuk dan sistem pendidikan yang mempunyai landasan pokok “Pesantren spirit but modern system“. Landasan pendidikan ini bersifat terbuka. Tidak hanya terbuka pada sistem pendidikan modern akan tetapi terbuka juga untuk menerima dan mendidik santri dari semua penganut agama, untuk dididik memahami ajaran agamanya masing-masing dengan baik.

Dengan sistem seperti diatas, kami berusaha untuk memberi kebebasan pada anak-anak kami untuk mencari, menggali dan memahami agama yang benar itu yang mana. Dan kami berharap tidak meninggalkan generasi keturunan yang asal ngikut saja.

Kami juga berharap anak kami bisa mempelajari indahnya hidup penuh perbedaan, penuh warna-warni. Jika budaya-budaya menerima dengan banyak individu dari berbagai keyakinan setiap harinya, maka jiwa toleransi akan terbentuk dalam diri anak-anak kami. Dan kedamaianlah yang akan terpancar setiap perilaku mereka.

Kesuksesan anak bukan karena orang lain, tetapi -ya…. karena orang tua dan kehancuran anak, ya….karena orang tua juga. Kalimat inilah yang membuat saya takut jika asal-asalan menyekolahkan anak-anak kami.

Alhamdulillahirrobbil’alamin………

 

Tuhan Kita Sama

zaytun

Pertama kali saya membaca judul “Tuhan Kita Sama” , otak saya diajak berfikir keras untuk memaknai judul tersebut. Judul tersebut saya temukan di buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi (ASI).

Karena sangat luarbiasa makna yang terkandung dari “Tuhan Kita Sama” akhirnya saya tulis juga di www.AyoBercerita. Bertujuan ingin berbagi dengan semua orang tentang makna yang terkandung didalamnya. Akan tetapi pembahasan yang saya tulis hanya sebatas kemampuan ilmu saya loooooo……sebelumnya jika ada salah atau kurang saya mohon bimbingan dari semua….

Dalam buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi, Hal:46, disebutkan oleh sang penulis, Drs.Ch.Robin Simanullang yang notabene seorang kristiani menyatakan bahwa, Syaykh Panji Gumilang menggenggam tangan saya saat pamitan mau pulang, dan syaykh berucap:”Terima kasih juga anda sudi datang kemari, tapi saya meminta jangan mengatakan beda aliran. Tuhan kita sama, udah selesai. Anda beriman kita beriman, itu kesamaannya. Nggak usah dikatakan benar tidak benar. Yang tahu benar itu cuma yang diatas sana (Allah). Yang penting kita praktekkan kebenaran, kita berjalan pada nilai-nilai kebenaran, nanti yang diatas sana yang akan menilainya. INDONESIA KALAU SUDAH BEGITU,  UDAH BERES. Karena kita majemuk. Kalau tidak begitu, susah. Justru saya yang minta anda jangan pakai istilah beda aliran. Aliran kita sama karena kita sama-sama ciptaan Tuhan. Itu konsep Ilahinya.”

Luarbiasa bukan makna diatas, hanya orang yang mempunyai toleransi tinggi yang bisa memahami seluruh agama, bukan untuk dimusuhi dan memusuhi, bukan untuk dikatakan paling benar dan paling salah. Pantas saja Syaykh Al-Zaytun (As Panji Gumilang) mendapat gelar tokoh toleransi dan perdamaian dunia.

Selama ini saya memandang orang yang berbeda agama dengan saya itu, selalu saya anggap salah dan mereka musuh agama saya (tetapi tidak kejam-kejam amat looo)…, tetapi saya selalu welcome dengan orang lain agama. Saya kasih contoh, sebut saja artis Mika Tambayong (bukan berarti saya penyuka cewek loo…hahaha, maklum lagi kenceng-kencengnya  LGBT nich…), sudah cantik, pintar dan blablabla… setelah tahu kalau dia bukan islam, langsung kecewa dech…“ya…kok kristen sih, eman lo”..ya begitulah respon saya sama orang selain islam. Itu dulu waktu jaman anak sekolahan yang masih fanatik dengan agama nenek moyang alias agama keturunan.

Tetapi semenjak anak kami sekolah di Al-Zaytun, saya banyak belajar tentang apa itu agama, apa itu manusia, bagaimana toleransi  itu membawa kedamaian semua manusia dan banyak lagi. Dan yang terpenting, setelah membaca buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi makin memahami kenapa Allah menciptakan agama itu berbeda-beda. Kita itu sama-sama ciptaan Allah, kita harus sama dan bareng-bareng mengerjakan tugas yang diperintahkanNya. Benar dan salah hanya milik Allah semata.

Dan sangat benar kita harus mencari dan mencari terus, belajar dan belajar terus untuk mencari sebuah kebenaran menurut Allah.

Satu lagi, jika semua orang berfikiran seperti yang disampaikan syayh Al-Zaytun diatas, pasti tidak akan ada yang bilang “cara ibadahku yang benar, cara merayakan hari kebesaran ku yang paling tepat dan banyak lagi”..maka akan bener-bener damailah negri tercinta kita bahkan kedamaian dunia akan tercapai. Amiiiin

Alhamdulillahirrobbil’alamin…